Menjelajah angkasaraya, Menerobos sempadan awan, Meruntuhkan tembok atmosfera -Pemburu-syuhada-

Wednesday, December 29, 2010

TIRAI 2010

بسم الله الرحمن الرحيم

Assalamu'alaikum w.b.t.

Tahun 2010 hampir melabuhkan tirainya... Ah~! terlalu banyak saya ingin kongsikan sebenarnya, namun benar-benar tidak kesempatan.

Ketuanan Melayu.....
Pilihanraya Kampus.....
Muhasabah 2010.....
dan segala macam buah fikiran ntahpape~

Bukanlah dek kerana urusan kerja yang tak berkesudahan~ cuma, cas-cas ion positif dan negatif yang kurang stabil dalam bendalir tubuh kebelakangan ini.

"Hatiku sakit, jiwaku cedera, urusanku tergendala...
Benar-benar keletihan..."

Jumaat~ pembuka lembaran 2010... jua penutup tirai 2010.

"Semoga lembaran 2011 membuka segala pintu rahmah buat hamba-hambaNYA yang sentiasa mendambakan keampunan dan keredhaanNYA."

Salam mesra, salam sayang
Salam ukhwah, salam perjuangan

Oh ya~ saya kembali kepada format asal... Rasanya ini lebih dekat dengan jiwa saya.
Selamat Tahun Baru 2011~!

Monday, December 6, 2010

Know Yourself - 'Workaholic?'

Bismillah wal hamdulillah...

I found this article and I think it suits for me and you too (maybe~ as for workers and you too - students) I chose it because I'm working too hard lately and it kills my private time. Argh~!

Hope you enjoy~ :)


You Might Be a Workaholic If...

It's a frequently asked question: Do we live to work, or work to live?

A growing number of Americans are finding that they live for work, and some of them are popping up at Workaholics Anonymous meetings nationwide. Unlike people who simply work very hard, which quite frankly is most of us, workaholics never punch out. They always feel like they are on the clock, 24/7, physically, mentally and emotionally working. They are more genuinely enthusiastic about work than anything else in their lives, even family and friends. There's nothing that person would rather be doing than working. And we're not just talking about Fortune 500 executives; nurses and construction workers, among others, attend Workaholics Anonymous meetings to try to kick the habit.

What Are the Trouble Signs?

If you're a workaholic, you can't stop thinking about work. Work issues distract you from relationships and those thoughts speed through your mind as you lie in bed at night. A part of you is always longing to get back to work. Nothing — not eating, socializing, sleeping — is as satisfying.

Here's a good way to think of it: An ordinary hard worker will be on the job, thinking about shopping with friends. A workaholic will be out shopping with friends, but will be thinking nonstop about work.

Workaholics are very controlling.

They can't delegate and are not usually interested in being team players. They are perfectionists and nothing is ever good enough for them. Workaholics would rather handle everything themselves, which doesn't always produce the necessary results because often we need the input and help of others.

A workaholic also has a troubled personal life.

Typically workaholics don't have many friends or hobbies. Their personal relationships are in disarray. They have difficulty with intimacy because work is always on their minds. And of course, there is a ripple effect in the families of workaholics. Research done by the University of North Carolina found that couples in a workaholic marriage tended to have twice the divorce rate as those who were in nonworkaholic marriages. We know that all marriages take work, but that's not the type of work that a workaholic wants to focus on.

Further, there is the effect on the children. Research has also found that children of workaholics have a higher rate of depression and anxiety mainly because that workaholic parent has placed severely high expectations on his or her kids, which links back to that desire for perfection. And there are health concerns for workaholics, caused by the extreme levels of stress they suffer. They often eat poorly, don't exercise, and in short, they take poor care of their physical and emotional well being.

Solutions to Kick the Habit

Like any addiction, it's challenging to kick and the person needs a support system to help. First, a workaholic must recognize and admit the problem. Take this quick personal survey: Ask yourself, on a scale of one to five — five being truly satisfied — how you'd rate your satisfaction and happiness in each of these key areas of your personal life: Your family? Your friendships? Your health? Your hobbies? Your spirituality?

If your total is not 12 or more points, you have to take a hard look at yourself. It's probably time to reconsider your priorities and to replace some of your work time with life time. On its Web site, Workaholics Anonymous suggests 20 questions to ask yourself to determine whether you may be a workaholic. Among them:

Do you take work with you to bed, on weekends and/or on vacation?

Is work the activity you like to do best and talk about most?

Have your family or friends given up expecting you on time?

Do you get impatient with people who have other priorities besides work?

Have your long hours hurt your family or other relationships?

Do you think about your work while driving, falling asleep or when others are talking?

Answering yes to one or two might not be the sign of an addiction, but a pattern of yes to three or more of these questions might mean it's time to make changes. But of course, with all addiction, making those changes is easier said than done.

Make time to relax.

Since workaholics are so detail oriented and focused, they should schedule time off to relax and play. Use this time to find new ways to find happiness and approval and satisfaction outside of work. Look for other benchmarks to measure your overall well-being such as achieving fulfilling personal relationships -- being a terrific, reliable partner, parent, and/or friend -- or even trying a new hobby that offers a complete diversion from work.

Learn to delegate.

Recognize that none of us can be successful or productive at work on our own. This is hard for these perfectionists, so they can start small, such as sharing small tasks with co-workers to start whether it's folding shirts in a retail store or managing the office staff. Slowly, the workaholic can see that he or she can begin to let go and still get the job done.

Additional resources:

"Chained to the Desk: A Guidebook for Workaholics, Their Partners and Children, and the Clinicians Who Treat Them," by therapist Bryan Robinson

Workaholics Anonymous Web site:

Tory Johnson is the workplace contributor on "Good Morning America" and the CEO of Women for Hire. Connect with her at

Source :


Personally, you know what?
Muslims won't be a workaholic because we have our 'special moment' with Allah everyday~
The most exclusive time that nothing can interrupt.

Salam segunung muhibbah, selautan mawaddah
Beriringan buat kalian maghfirah dan rahmah Illahi

I don't think that I'm a workaholic...
Yes~! :)

Thursday, December 2, 2010

Bicara Mata Hati

Bismillah wal hamdulillah...

Bicara Allah, dengarkanlah

setiap hari pasti ada bicara Allah kepada kita.
ada yang halus, ada yang jelas.
tapi yang istimewanya bicara Allah ini, dengarnya bukan pada telinga.
tapi dengan hati...
aneh, tapi itulah caranya.
kerana itu surat cinta Allah kepada manusia, iaitu al Quran, perlu di'baca' dengan hati.


pernahkah anda tersepak batu?
sakitkan? boleh jadi lebam seminggu.
tapi tunggu!
mungkin ini salah satu bicara Allah kepadamu

"oh ya?"
tapi hati perlu terbuka, perlu peka...
kerana jika tidak, mungkin cuma sumpah seranah
atau keluhan, "aduh! sakit!" yang terpacul dari mulut kita
lihatlah, dan pandanglah dengan hati...
istighfar, mungkin ada dosa yang dibuat tanpa disedari

istighfar, mungkin ada kewajipan atau amanah yang tidak dilunasi
istighfar, mungkin...mungkin kita memang kurang mengingati-Nya pada hari ini!
kerana itu maka muncullah batu itu sebagai asbab
perantara bicara, kasih cinta, peringatan halus dari Yang Maha Kuasa.

pernahkah anda ditimpa bencana?
kehilangan harta benda, atau gagal mencapai cita-cita?
pasti terpendam rasa kecewa, seolah kelam seluruh dunia
tapi, ah! sekali lagi Allah ingin berbicara dengan kita
mengajak kembali menumpukan seluruh pengharapan
hanya kepada-Nya
membalikkan paradigma
kepada apa yang penting sebenarnya
istighfar... mungkin ada dosa walau sekecil mana yang menjadi batu penghalang kepada kejayaan kita
istighfar... mungkin ibadah yang masih kurang sempurna, lalu mencacatkan buku amalan kita
istighfar... mungkin ada sesuatu yang lebih baik menanti kita, cuma perlu tunggu, untuk seketika!

pernahkah anda dipuji
walaupun pada realiti, andalah manusia yang paling tidak layak disebut begini?
pada realiti, anda tahu, setiap kelemahan dan kejahatan yang tersembunyi
yang jika diketahui, mungkin tiada siapa mahu mendekati!
tapi halusnya bicara Allah
cantiknya bicara Allah...
Allah tahu, Allah tahu

setiap kelemahan, setiap kejahatan, setiap dosa, setiap detik hati, setiap prasangka
tapi Allah juga tahu, dan MAHU
supaya kamu berubah, kamu berhijrah
menjadi seperti apa yang diperkatakan, yang menjadi bahan pujian, oleh manusia tadi
menggunakan sepenuh potensi diri
istighfar... tapi jangan tertipu! di sini bicara syaitan juga akan cuba mempengaruhimu
membuatmu terdetik, "sungguh, akulah yang terbaik!"
istighfar... janganlah begitu! takut nanti mengundang penyakit demi penyakit (hati)
yang merosak terus amalanmu, akhirnya dirimu...

begitulah syaitan cuba merosakkan dirimu.

bicara Allah ada pada setiap kecantikan kelopak dan daun
yang tumbuh keluar setelah tiba musimnya
bicara Allah juga tergambar,
pada kanvas langit yang dihiasi bintang dan bulan di waktu malam
kepulan awan dan pelangi di waktu siang
bicara Allah juga tersebar,
di setiap urat saraf, pembuluh darah, tulang belulang
degup jantung, turun naik nafas...
hidup mati...
Dengarkah kita?

nukilan rasa

Salam segunung muhibbah, selautan mawaddah
Beriringan buat kalian maghfirah dan rahmah Illahi

Rindukan basahnya zikir, manisnya iman...

Wednesday, November 24, 2010

Seusia Ini ~ 22 Tahun

Bismillah wal hamdulillah...


“Bang… Bang… Saya bermimpi lagi bang…”, luah sang isteri.

“Mimpi apa? Nampak darah lagi?”, balas sang suami.

“Ha’aaa… Entah bang. Kata orang tua-tua, kalau mimpi darah ni… murah rezeki. Ish~ tak sabar saya nak tengok permata kita yang sorang ni…”

Sang suami sekadar mengukir senyuman penuh makna buat sang bidadari.


“Isk… Isk… Isk…”, esakan seorang kanak-kanak seusia 5 tahun dalam kegelapan, takut meluahkan rasa hati kepada yang lain.

“Isk… Isk… Isk…”, dia terus teresak-esak keseorangan tanpa disedari yang lain.

Esakannya masih lagi terkawal hinggalah dia mengambil keputusan nekad. Lari. Lari dari rumah nenda, menerjah kegelapan malam demi pertemuan dengan bonda yang amat dirindu. Ah… terselamat. Tuhan masih menyayanginya. Ditemui oleh jiran tetangga di pertengahan jalan raya.

“Eh, ni anak cikgu Hashim ni, jiran aku. Mari, Pak Usop hantar ke rumah.”, simpati Pak Usop.

Hingga kini, peristiwa tersebut masih melekat kuat di kalangan sanak-saudara dan jiran tetangga.

“Yang ni lah, yang lari malam-malam tu? Ish… dah besar… dah jadi anak dara.”


“Mak, kak dapat 5A.”, cerita sang anak dengan senyum lebar terhias~ Ah… paling cemerlang ketika itu di kalangan keluarga Sidek bin Taib dan Puteh bt Seman yang baru membesar. Tanpa sedar, perasaan bongkak menyusup masuk. Sedikit demi sedikit… lalu membuah ego tak bertepi. Hinggalah timbulnya ujub. Dan… berterusan hingga keputusan PMR dengan 8A 1B.

Seorang sahabat bersimpati… ‘Cahaya Mata yang Pintar’, sepintar empunya badan menegur berhemah~ Tersentak sang anak ini… “Ah, aku tertipu dek dunia yang sementara.”

Pentarbiahan di sekolah menengah agama serba-sedikit mendidik jiwanya semakin lentur… lentur… dan lembut walaupun masih lagi tersisa sang ego yang degil. Tak apa, sekurang-kurangnya ada peningkatan…


Mula berkenalan dengan satu lagi warna kehidupan… warna kelam, pekat dan gelap pada usia 18 tahun di era matrikulasi. Kehilangan salah seorang adinda di awal pengajian di Changlun serta sakit rindu dek ketidakbiasaan berjauhan dengan keluarga. Seribu satu rasa berkunjung. Sedih, pilu, rindu, amarah… terselit jua bunga-bunga ukhwah dengan sahabat-sahabat.

‘Cahaya Kehidupan’~ seindah peribadinya… Moga ukhwah di semenanjung puncak utara kan terus berkekalan menjadi syafaat di akhirat kelak. Ameen ya rabbul ‘alameen.



“Vroom~ vroom~ vroom~”, sebuah motosikal Honda biru, TAK 8044 membelah jalan UKM ditunggang oleh seorang muslimat yang setia bersarung jaket ISIUKM dengan tag nama ADIK Q yang telah dicabut. Itu dia… label yang mengongkong kedewasaan.

“Kak, sekarang ni ada hal kejap di makmal. Petang ni, kita pergi program bersama ea…”, laung sang muslimat ini. Gaya muslimah lincah ditambah seri peramah.

Kemuncak kehidupan sepanjang menjalani hidup sebagai hamba yang ditaklifkan Khalifah di muka bumi Allah~ UKM. Itulah medan tarbiahnya. Ukhwah, akademik, perjuangan, cita-cita, cinta dan harapan. Semua bercampur baur menjadi lauk yang cukup enak disantap (Ye ker? Huhu… semacam banyak perasa pahit kot. Ngee~) Takpe-takpe, yang pahit itu ubat.

Masih ingat lagu 1, 2, 3, 4 oleh Aris Ariwatan?

“Jangan manis terus ditelan, pahit terus dibuang. Itu bidalan…”

Percaya @ tidak~ Saya pernah berimpian mahu menunggang moto ini.

Cerita dulu... Citarasa saya dah tidak 'seburuk ini' kini. huhu...


Seusia ini, 22 tahun… Siapakah empunya badan? Entahlah… Sekarang dalam tempoh Fasa Kerjaya dan Persediaan. Jodoh? Ah… dirinya optimis bahawa jodoh telah tercatat di Lauh Mahfuz. InsyaAllah. Soalnya adalah usaha, doa dan tawakal serta… redha. Manalah tahu andai teman sepermainan zaman kanak-kanak… empunya gerangan? (Huhu… Adusss~)

‘Hamparkan masamu seluasnya untuk Allah,

Nescaya Allah aturkan kehidupanmu sebaiknya.

Berikan hatimu sepenuhnya buat Allah,

Nescaya Allah anugerahkan pemilik hati yang terbaik.’



“Tik… Tik… Tik…”, jam di dinding menunjukkan 1.45 pagi~ Suasana keheningan pagi di Pantai Marang dikejutkan dek tangisan bayi yang baru selamat menjengah alam fana.

Tanggal 24 November 1988, lahirlah seorang srikandi Islam akhir zaman oleh seorang bonda yang usianya mencecah 24 tahun. Comel~ sempurna sifatnya. Namanya… Huda! Moga-moga dapat menjadi petunjuk kepada yang lain. Huda, Huda apa ya… Huda… Huda… Huda…

Ah~! Petunjuk yang Sangat Berpengetahuan. Huda Afiqah binti Hashim. Satu kucupan lembut penuh kasih hinggap di ubun-ubun sang anak diiringi doa kudus agar sang anak yang bakal menjadi pembela ayah bonda kelak dapat menempuh mehnah akhir zaman dengan kuat dan tabah.

Terima kasih mak…

Terima kasih ayah…

“Ya Allah Ya Tuhanku, ampunilah dosa-dosaku dan dosa-dosa kedua ibu-bapaku dan kasihanilah mereka sebagaimana mereka mengasihaniku ketika kecil…”

Salam segunung muhibbah, selautan mawadah

Beriringan buat kalian maghfirah dan rahmah Illahi

Doakan saya~ dan jua sahabat handai semuanya. Moga dipanjangkan umur dalam kebaikan serta beroleh kejayaan dunia dan akhirat. Ameen ya rabbul ‘alameen~

Saturday, October 23, 2010

Serangan Pornografi oleh Akhbar

Bismillah wal hamdulillah

Artikel di bawah adalah ditujukan buat Utusan Malaysia dalam ruangan Surat Pembaca. Saya mengandaikan pihak Utusan Malaysia menyiarkannya. Saya kan, suka optimis. Kalau tidak pun, sekurang-kurangnya ada kalangan anak-pinak atau saudara mara krew-krew Utusan Malaysia ada terbaca. :)


Pertama dan terutama, saya mengucapkan ribuan terima kasih kepada pihak Utusan Malaysia kerana sudi memilih surat ini untuk disiarkan dalam akhbar. Sebelum saya fokus pada tajuk, izinkan saya mengupas serba sedikit mengenai isu pornografi. Kita semua sedia maklum bahawa isu pornografi mutakhir ini semakin ganas menyerang sahsiah anak muda di Malaysia. Indikator yang jelas akibat daripada fenomena ini adalah lahirnya ramai anak luar nikah, itu belum lagi dikira dengan kes-kes zina, sumbang mahram mahupun ‘bersekedudukan’ yang tidak ‘membuahkan hasil’. Gejala anak luar nikah ini pula sudah cukup menggerunkan rakyat Malaysia dengan berita-berita pembuangan bayi, janin serta pengguguran yang disiarkan di dada-dada akhbar saban hari.

Bercakap mengenai isu ini, saya agak terkejut dengan laporan berita di dada akhbar mutakhir ini. Sejujurnya, bapa saya merupakan pembeli tetap surat khabar Utusan Malaysia sejak hampir 10 tahun yang lalu. Justeru, saya menyedari serba-sedikit perubahan yang berlaku pada media utama ini. Apa yang saya ingin utarakan adalah gambar-gambar artis tempatan mahupun luar negara yang agak ‘melampau’. Maafkan saya atas penggunaan istilah ini. Satu perkara yang menyentak kepekaan saya adalah pemaparan gambar atlit penerjun Malaysia dalam Sukan Komanwel yang berlangsung di India baru-baru ini dalam ruangan Sukan disiarkan dengan BESAR bertarikh 12 Oktober 2010 sangat tidak senonoh. Masalah yang berlaku sekarang adalah minda kita seolah menerima perkara tersebut dengan mudah. Kebanyakan orang mungkin berkata, “Namanya penerjun, mestilah pakai macam tu.” Pokok bicaranya adalah bagaimana penapisan atau pengeditan gambar itu sendiri untuk tatapan umum. Itu sekadar satu contoh, bagaimana pula dengan gambar-gambar artis yang menunjukkan belahan dada ditambah pula dengan aksesori paha?

Saya mengambil berat perkara ini kerana akhbar merupakan antara massa yang paling berkuasa dan amat dekat dengan rakyat. Tanpa mempertikai pengaruh yang dibawa televisyen, internet mahupun telefon bimbit, akhbar tempatan merupakan massa yang sangat mudah menembusi setiap pintu rumah hatta bagi mereka yang ketiadaan teknologi sekalipun. Semua peringkat umur turut sama membaca, sama ada datuk, bapa, ibu mahupun anak-anak. Pendedahan gambar yang ‘melampau’ ini dengan bukan sahaja satu ‘penderaan seksual’ terhadap lelaki (perkara enteng yang hakikatnya membawa pengaruh besar yang semakin berleluasa) malah dengan mudah menaikkan nafsu syahwat kaum Adam. Akibatnya, kes sumbang mahram dengan mudah boleh terjadi.

Sekali lagi, saya memohon maaf kepada pihak Utusan Malaysia sekiranya pihak tuan tersinggung. Saya percaya dan bersangka baik bahawa berkemungkinan pihak tuan tidak menyedari atau terlepas pandang menyebabkan perkara ini terjadi. Sehubungan itu, saya dengan merendah diri memohon budi baik serta autonomi yang ada pada pihak Utusan Malaysia selaku akhbar utama Malaysia agar lebih berhati-hati dalam menyiarkan gambar-gambar artis mahupun mana-mana individu dalam dada akhbar selepas ini. Sebagai peringatan bersama, saya bukan menuding jari pada satu pihak. Tidak sekali-kali. Saya mengharapkan agar pihak media massa yang lain juga mengambil berat tentang perkara ini terutama sekali majalah hiburan yang beraneka ragam di pasaran. Tepuk dada, sendiri yang merasa. Sekian, terima kasih.

Pembaca Prihatin

K. Terengganu, Terengganu

Sekadar gambar hiasan...
mengurangkan sesak dalam dada.

Salam segunung muhibbah, selautan mawaddah
Beriringan buat kalian maghfirah dan rahmah Illahi

Melepaskan kepulan asap yang lama terpendam.
Mujur bukan lava yang termuntah...